Jalan Para Petarung…
“May eyes of cowards never sleep”
Sejatinya petarung itu memiliki
daya juang yang tinggi dan tak pernah padam. Biasanya menjadi sumber inspirasi
bagi yang lain, disaat dia sedang diuji oleh ombak yang besar dan segala macam
fatamorgana kehidupan dunia yang menghantui terkadang menipu seperti permainan yang melenakan lagi memabukkan.
Apa sumber bahan bakar para
petarung?
Menjadi seorang pertarung yang
handal tidak bisa didapatkan hanya dengan hitungan satu malam atau hitungan sistem
kebut semalaman, butuh banyak keterampilan yang dibutuhkan, butuh kebiasaan
yang perlu didawamkan, perlu pemahaman yang utuh tentang sejarah para petarung
yang sudah merintis jalan dan menang dengan gemilang. Modal potensi diri
mungkin tak akan menjadi cukup jika tidak diasah sesuai dengan ekosistemnya,
tidak akan pernah terjadi lompatan kuantum jika tidak dapat memberikan energi baik untuk
diri seorang pertarung maupun menjadi penerang jalan bagi petarung yang baru saja
menjejakkan kakinya dalam menempuh jalan-jalan para petarung kehidupan. Carilah sumber mata
air inspirasi, sumber cahaya yang kan menjadi penuntun kegelapan, penerang akan semu-nya
lagi berliku rute terjal terselip seru serial haru episode para petarung, yang nantinya akan menjadi
cerita warisan sejarah peradaban kesungguhan. Jadi, temukanlah sumber bahan bakar sebagai petarung
sejati!
Bagaiman petarung itu lahir?
Seperti yang kita pahami bersama,
pelaut yang ulung tidak akan lahir dari kebiasannya menghadapai ombak yang
tenang, para petarung samudera kehidupan itu lahir dari ganasnya ombak yang menghantam
sisi-sisi lemah para pelaut itu. Hadapi dengan penuh kesadaran ombak besak yang
akan datang, ombak tenang yang ditemui akan hadir menyapa setelah ombak kejam ditambah badai sangar melanda jiwa para petarung. Jadi, mari kita biasakan menjadi petarung
yang mengenali jati dirinya dan paham akan lingkungan terbaiknya, pahamkan dimana
ekosistemnya bertumbuh melangit. Jika tak ada, maka carilah, jika tak berujung buatlah sendiri batas diri.
Siapkah menjadi petarung?
Jika saja kita menjawab tidak
siap, waktu akan membuat kita menjadi siap dengan dengan segala resikonya. Diam
mati, bergerak juga mati. Berjalan tertinggal, berlaripun terkadang masih
tertinggal. Siap atau tidak itulah garis dasar yang akan membuat perbedaan
akhir menjadi terlihat begitu menawan. Lihatlah pegunungan yang gagah perkasa menjulang
dengan segala keindahannya dari kejauhan, terkadang sepi tanpa tepuk tangan, terkadang hingar bingar karena biantang malam, akankah kita hanya menilai
keindahannya tanpa lebih jauh mencoba dekat bermatakan serangga, semakin dekat dan terus mendekat
memasuki serta menikmati keindahannya dari hitamnya kelopak mata berbungkus retina nyata tapi bukan dunia maya. Ternyata memang benar, perkataan para petarung abadi asama garam kehidupan, medan berkata-kata jauh lebih mudah daripada
medan bertindak, medan bertindak masih akan jauh lebih mudah dari medan
bersungguh-sungguh dalam menapaki jalan-jalan para petarung.
Duhai diri, bersiapa siagalah! wahai hati, tetaplah hidup, tak ada kata kompromi; perbaiki cara, perbaiki pemahaman, semesta akan mempertemukan dengan para
petarung yang pastinya tak mati karena dicaci dan tak tinggi karena dipuji. Karena disinilah
kita mengumpulkan bekal dan persiapan pulang….
Salam hangat wahai para petarung pilihan
langit. Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah.

Comments
Post a Comment