Skip to main content

Jalan Para Petarung


 Jalan Para Petarung…

 

“May eyes of cowards never sleep” 

(Khalid Ibn Al Walid)

 

Sejatinya petarung itu memiliki daya juang yang tinggi dan tak pernah padam. Biasanya menjadi sumber inspirasi bagi yang lain, disaat dia sedang diuji oleh ombak yang besar dan segala macam fatamorgana kehidupan dunia yang menghantui terkadang menipu seperti permainan yang melenakan lagi memabukkan.

Apa sumber bahan bakar para petarung?

Menjadi seorang pertarung yang handal tidak bisa didapatkan hanya dengan hitungan satu malam atau hitungan sistem kebut semalaman, butuh banyak keterampilan yang dibutuhkan, butuh kebiasaan yang perlu didawamkan, perlu pemahaman yang utuh tentang sejarah para petarung yang sudah merintis jalan dan menang dengan gemilang. Modal potensi diri mungkin tak akan menjadi cukup jika tidak diasah sesuai dengan ekosistemnya, tidak akan pernah terjadi lompatan kuantum jika tidak dapat memberikan energi baik untuk diri seorang pertarung maupun menjadi penerang jalan bagi petarung yang baru saja menjejakkan kakinya dalam menempuh jalan-jalan para petarung kehidupan. Carilah sumber mata air inspirasi, sumber cahaya yang kan menjadi penuntun kegelapan, penerang akan semu-nya lagi berliku rute terjal terselip seru serial haru episode para petarung, yang nantinya akan menjadi cerita warisan sejarah peradaban kesungguhan. Jadi, temukanlah sumber bahan bakar sebagai petarung sejati!

Bagaiman petarung itu lahir?

Seperti yang kita pahami bersama, pelaut yang ulung tidak akan lahir dari kebiasannya menghadapai ombak yang tenang, para petarung samudera kehidupan itu lahir dari ganasnya ombak yang menghantam sisi-sisi lemah para pelaut itu. Hadapi dengan penuh kesadaran ombak besak yang akan datang, ombak tenang yang ditemui akan hadir menyapa setelah ombak kejam ditambah badai sangar melanda jiwa para petarung. Jadi, mari kita biasakan menjadi petarung yang mengenali jati dirinya dan paham akan lingkungan terbaiknya, pahamkan dimana ekosistemnya bertumbuh melangit. Jika tak ada, maka carilah, jika tak berujung buatlah sendiri batas diri.

Siapkah menjadi petarung?

Jika saja kita menjawab tidak siap, waktu akan membuat kita menjadi siap dengan dengan segala resikonya. Diam mati, bergerak juga mati. Berjalan tertinggal, berlaripun terkadang masih tertinggal. Siap atau tidak itulah garis dasar yang akan membuat perbedaan akhir menjadi terlihat begitu menawan. Lihatlah pegunungan yang gagah perkasa menjulang dengan segala keindahannya dari kejauhan, terkadang sepi tanpa tepuk tangan, terkadang hingar bingar karena biantang malam, akankah kita hanya menilai keindahannya tanpa lebih jauh mencoba dekat bermatakan serangga, semakin dekat dan terus mendekat memasuki serta menikmati keindahannya dari hitamnya kelopak mata berbungkus retina nyata tapi bukan dunia maya. Ternyata memang benar, perkataan para petarung abadi asama garam kehidupan, medan berkata-kata jauh lebih mudah daripada medan bertindak, medan bertindak masih akan jauh lebih mudah dari medan bersungguh-sungguh dalam menapaki jalan-jalan para petarung.

Duhai diri, bersiapa siagalah! wahai hati, tetaplah hidup, tak ada kata kompromi; perbaiki cara, perbaiki pemahaman, semesta akan mempertemukan dengan para petarung yang pastinya tak mati karena dicaci dan tak tinggi karena dipuji. Karena disinilah kita mengumpulkan bekal dan persiapan pulang….

Salam hangat wahai para petarung pilihan langit. Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah.  

“The bravest heart is the one that stays close to ALLAH, even, when it’s in pain”.

Comments

Popular posts from this blog

Rubahlah diri dalam senyap

Duhai diri, sadarilah bahwa perjalanan hidup didunia ini, keberadaan kita didunia ini adalah penuh dengan ujian dan cobaan. Diperlukan kesabaran yang tak bertepi, dibutuhkan ketahanan dalam menerima dan menyadari bahwa Allah adalah tempat meminta dan memohon pertolongan. 1. Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan kita (2:286) 2. Allah tidak pernah merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu merubah dirinya sendiri (13:11) 3. La Tahzan, innallaha ma ana (9:40) Pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian, skenario itu akan indah pada waktunya. Setiap Niat pasti akan dipertemukan dengan hasilnya, akan dipertemukan dengan ketentuan Allah. Wilayah kita sebagai hamba adalah berusaha dengan sebaik-baiknya, berusaha sungguh-sungguh, sehingga mintalah yang terbaik dari Allah. Dia lah sebaik-baiknya pelindung, sebagus-bagusnya pengatur kehidupan.  Yakin dan percaya ketetapan Allah adalah yang terbaik. Jangan salahkan orang lain, lihatlah kedalam diri adakah kemaksiatan, salah nia...

Beberes, pindahan gercep!

Selesai juga karantina 0+7 (3+4), Apa maksudnya angka 0, itu adalah awal ketikaa mendarat di negeri formosa, setelah itu menjalani masa karantina di hotel (nasib belum punya apartemen/kos diluar kampus), harus menjalani masa karantina selama 7 hari, karantina 3 hari wajib tidak keluar, setelah itu 4 hari melakukan self-health management (boleh keluar dan berinteraksi) masih menjaga protokol kesehatan, sebelum keluar telah melakukan swab mandiri dan hasilnya negatif. Selesai karantina selama total 8 hari di hotel galaxy, langsung paginya keluar hotel disambut dengan gerimis yang mulai menderas sederas-derasnya, Alhamdulillah diHP sudah ada aplikasi Uber, akhirnya mulai menuju kampus jam 09 pagi dan samapi di dorm. Kalau tidak salah inget biayanya 117NTD. Setelah ditinggal selama kurleb 1 bulan, tidak banyak perubahan pada kamar yang berada di lantai 3 itu, kecuali rekan-rekan sekamar yang sudah pindah ke luar kampus dan ada yang pindah ke asrama lainnya. Setelah melakukan pengumpulan ma...

Alhamdulillah ala kulli hal, Alhamdulillah lagi

 Alhamdulillah anyway, Terkadang kita memang harus menerima kenyataan bahwa kita akan selalu digoda oleh setan untuk berbuat buruk, bahakan ketika berbuat baikpun setan selalu membisikkan kata-kata, agar niat kita tidak lagi lurus, bahkan sangat halus sekali, sehingga kita merasa sudah menjadi sangat baik sekali atau merasa paling baik sedunia, Astaghfirullah hal adzhim. Perasaan ketika berada dalam posisi rendah karena melakukan perbuatan yang buruk, membuat kita terkadang merasakan bahwa seperti memakan cabe, atau seperti jatuh dilubang yang sama berkali-kali, akan tetapi pada diposisi tersebutlah kita belajar bagai mana mengendalikan perasaan agar tidak terpuruk dan tetap berjuang untuk selalu menjadi pemenang melawan hawa nafsu kita sendiri, melawan ego kita sendiri, melawan zona nyaman yang terkadang melenakan. Begitu banyak godaan yang datang ketika kita sedang sendirian atau sedang bersama-sama tetapi serasa sepi terasing dipojok. Begitulah kehidupan kita, harus selalu siap ...