Sejatinya memang hidup itu pasti naik dan turun, ada masa pasang surutnya, ada kondisi dimana dari yang awal-mulanya rajin menjadi rajin ditambah banget, dari awalnya baik menjadi semakin baik banget atau menjadi jauh lebih baik. Menjadi baik itu bukan harus bersendirian, menepi diujung bukit, berlari menerabas rawe-rawe rantas malang-malang putung, menyeberangi lautan dan berterbangan ke-sana ke-sini (ini manusia atau burung ya?).
Ini bukan cerita tentang jalan hampa tanpa tujuan, karena memang kita akan selalu berpacu dengan waktu bukan dengan untaian kerumitan rindu. Saat pencarian kata rindu yang semakin fana membuat tulisan ini jadi tak berbentuk jelas, tetapi yang berderap panjang adalah sebuah kata yang terselip dalam lirih do'a yang awalnya berbisik dibumi, akhirnya menembus langit. Semoga kau pun tetap berdo'a semampumu walau dengan segenggam keikhlasan.
Semua rindu itu pasti akan sirna dan kan hadir kembali dengan bentuk dan rupa tak terduga, bertemu berpadu terkadang tanpa pesan lambaian tangan, ya sekedar mampir lalu bergegas menghindari karena sandaran hati hanyalah kepada Sang Pencipta, bukan kepada diri yang selalu dibanjiri ego-superego tak bertuan. Semoga rindumu tak kehilangan arah, seperti malam yang kian berangsur memudar karena sapaan remang cahaya yang setia dengan penuh arti sambut pagi, bahwa hadirnya kata itu tak harus berupa aksara-aksara kosong tak bernurani.
Semoga sisi kerinduanmu itu selalu menyentuh dalam kepasrahan yang menyadarkan bahwa kita hanyalah sepenggal asa, tiada lain selain bersiap diri, mengumpulkan bekal untuk kembali pulang, dengan segenap kesyukuran berbalur kesabaran.
Terima kasih sudah mengetarkan isi hari ini, esok dan kemudian dengan segenggam do'a...percayalah! kamu itu terdalam. Titik.
-------

Comments
Post a Comment